Nikah adalah sunnah Rasulullah.
Sunnah yang dimaksud bukan dam pengertian bila dilaksanakan berpahala dan bila
tidak dilaksanakan tidak berdosa. Namun nikah itu sunnah karena merupakan
manhajul hayah, cara hidup. Karenanya buat mereka yang sudah dewasa baik secara
biologis maupun mental dan memiliki kesiapan untuk menikah Rasulullah
memerintahkan untuk menikah bukan menganjurkan!
Menikah akan mengendalikan pandangan
dan memelihara kesucian nafsu seksual maka yang tidak sanggup berpuasalah.
Bahkan Rasulullah mengancam, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku maka ia
bukanlah golonganku.
Menikah adalah wujud kasih sayang
Allah. Ada hikmah dan manfaat yg akan kita nikmati. Pernikahan mendatangkan
ketentraman di hati kita agar terwujud rasa cinta dan kasih sayang sebagai
modal untuk kehidupan berkeluarga. Cinta kasih sayang yg benar dan suci yang
dibangun atas dasar pernikahan.
Dengan menikah peluang rejeki akan
semakin besar. Sayyidina Abu Bakar ketika membaca ayat…”Wahai para wali,
nikahkanlah orang-orang yang bersendirian diantara kamu, jika mereka adalah
orang-orang miskin Allah yang akan memampukannya. Sesungguhnya Allah Maha Luas
Karunia-NYA. Dia Maha Tahu siapa yg paling pantas mendapatkan karunia-NYA.
Dengan menikah seseorang akan
semakin besar rasa tanggungjawabnya. Peluang rejeki akan semakin bertambah.
Manakala seorang muslim menikah,
peluang godaan syetan semakin berkurang. Syetan itu bersama orang yang
sendirian. Kamu harus beratu hindarilah perceraian dan perpisahan. Syetan itu
senang kepada yang bersendirian. Dan dia akan jauh ketika berdua. Manakala
pernikahan kita sempurnakan dengan taqwa maka akan terjadi saling nasehat
menasehati dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang.
Pernikahan akan melahirkan generasi
yang shalih. Aset masa depan. Bekal kita ketika menghadap Allah swt menjadi
bertambah.
Tidak otomatis orang yang menikah
secara islami dapat merasakan hikmah dan manfaat seperti di atas. Boleh jadi
mereka hanya sempat menikmati bulan madu. Tapi bulan-bulan yang lainnya empedu.
Karena tata cara yang sesuai dengan syariat Islam hanya digunakan ketika
menikah saja, selebihnya ketika menjalankan roda rumahtangga tak memiliki pedoman
apatah lagi menghidupkan budaya Islami di tengah keluarga.
Padahal yang paling tahu bagaimana
menjadi bahagia dan menjamin kebahagian kita bukanlah diri kita sendiri
melainkan Allah. Karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal dia baik
bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal dia tidak membawa kebaikan
untukmu…..ALLAH MAHA TAHU
Oleh karena itu:
1. Hendaknya perlakukan pasangan dengan cara yang terbaik. Hal ini bukan hanya merupakan kewajiban suami pada istri tapi juga kewajiban istri pada suami. Bukan saja kita perlakukan dengan cara yang baik tapi lakukanlah terus menerus dengan cara yang TERBAIK. Proaktif untuk selalu berbuat baik kepada pasangan dengan cara yang ma’ruf. Yang terbaik diantara kamu adalah orang yang paling baik di tengah keluarganya.
1. Hendaknya perlakukan pasangan dengan cara yang terbaik. Hal ini bukan hanya merupakan kewajiban suami pada istri tapi juga kewajiban istri pada suami. Bukan saja kita perlakukan dengan cara yang baik tapi lakukanlah terus menerus dengan cara yang TERBAIK. Proaktif untuk selalu berbuat baik kepada pasangan dengan cara yang ma’ruf. Yang terbaik diantara kamu adalah orang yang paling baik di tengah keluarganya.
2. Apabila seorang muslim melakukan
pernikahan, berarti 50 persen agamanya sudah terpenuhi. Agar lengkap bekalilah
dengan ketaqwaan.
3. Nikah artinya bersatu, lawannya
thalaq. Bercerai. Hakikatnya menikah adalah menyatukan visi untuk keluarga yang
bertaqwa. Seorang suami harus bisa menjadi Imamul mutaqqien, karena demikianlah
Rasulullah mengajarkan do’anya pada umatnya yang sudah berkeluarga. Satukan
visi, langkah untuk meraih kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Harus bekerjasama
dan sama-sama kerja. Bukan sama-sama suka ngerjain. Bekerja sama untuk
memperbesar aset keluarga agar semakin meningkatkan keshalihan
4. Banyak bdo’a, meminta kpd Allah..
Karena atas izin Allah dua hati berpadu menjadi satu, ikatan yang kokoh dijalin
sehingga sakinah, mawaddah warahmah mewujud menjadi jiwa keluarga.